COLLEGE JOURNEY : DOA YANG TERBAYAR SETELAH DITOLAK 7 PTN

Jika saya pernah bercerita tentang perjuangan saya sampai akhirnya saya dapat berkuliah di Universitas Gadjah Mada (http://dnuralifiani.blogspot.com/2015/08/finally-gamada15.html), kali ini saya akan cerita secara lebih mendalam tentang semua harapan saya di UGM selama 3 tahun menjalani masa studi di UGM, dari mahasiswa baru sampai menjadi mahasiswa tua. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang biasa, tapi bagi saya ini adalah momen luar biasa di hidup saya, dan saya akan senang membagikan cerita ini kepada kalian.

Pertama kali saya menginjakkan kaki saya di Kota Pelajar ini yang terlintas di benak saya adalah apakah benar saya bisa berkembang di kota orang? Sebenarnya dulu saya masih ragu dengan keputusan saya untuk pergi merantau, banyak sekali pertimbangan yang saya pikirkan, mulai dari biaya hidup hingga orang tua.

Hari pertama di Jogja saya langsung terbius candu rindu terhadap Jakarta. Kok bisa? 18 tahun saya dibesarkan di Ibukota, tidak pernah terlintas dipikiran saya meninggalkan Jakarta dan seisinya. Terlebih lagi karena saya anak tunggal, dimana saya harus meninggalkan orang tua saya berdua di rumah, terlebih lagi keduanya sibuk dapat panggilan dinas di berbagai kota, pasti sepi, pikirku.

Seminggu sudah saya di Jogja yang artinya sebentar lagi saya akan bertemu kawan baru. Terlepas dari seminggu sudah saya di Jogja yang terus menerus mengeluarkan air mata setiap di telfon orang tua, akhirnya saya menemukan kata bangga untuk diri saya. Bangga karena perjuangan saya sampai akhirnya diterima di UGM tidaklah mudah, harus melewati beberapa penolakan seperti ditolak UI, UNPAD, IPB, PNJ, UNJ, UIN, serta UPN.

Ditolak 7 PTN bukan hal yang mudah buat saya lalui. Malu sama diri sendiri, malu karena teman-teman yang lain udah diberi kepastian dimana mereka akan melanjutkan pendidikan, marah kenapa bisa saya sampai seperti ini. Kalo kalian mau tahu, saya pernah menghilang tanpa kabar sama sekali, gak pernah on LINE, WHATSAPP, dan lainnya. Dan tiba-tiba saya muncul di grup kelas SMA dengan memberi kabar, “Alhamdulillah guys makasih doanya, dhea udah diterima di UGM jurusan Akuntansi”.  

Benar adanya jika, “Allah tidak akan mengembalikan tangan-tangan yang berdoa dan keringat usaha yang tercucur dengan hasil yang kosong, tugasmu hanya perlu ikhlas dan sabar”.

PPSMB (Pengenalan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru) adalah titik awal saya berada di UGM. Bertemu teman baru dari berbagai fakultas, bertukar pengalaman, bertukar cerita perjuangan yang akhirnya kami dipertemukan di ruangan yang sama untuk 6 hari ke depan. Banyak yang beruntung dengan sekali pilihan langsung tembus PTN apalagi UGM, tapi tidak sedikit yang mengalami kejadian seperti saya, ditolak berkali-kali sampai akhirnya resmi menjadi mahasiswa UGM.

Hari pertama saya PPSMB adalah dimana hari yang sama untuk orangtua melalukan pertemuan awal dengan rektor dan dekan fakultas. Waktu itu yang hadir ayah saya, sedihnya adalah ketika kami ada di bawah langit yang sama dan menghirup udara yang sama di Jogja tapi kami tidak dipertemukan. Ayah saya menelfon saya pada saat istirahat sholat ashar, berkata “Nak, bapak udah kelar pertemuan orang tua, bapak langsung ke stasiun ya pulang ke Jakarta lagi, gausah sedih, bapak juga kangen”, serius, itu bikin saya gak fokus.

Kata-kata “Jogja berhati hangat” belum bisa saya rasakan, susah untuk jatuh cinta dengan tanah rantau ini, pikiran untuk pindah kampus pun sempat terbesit dibenak saya. STAN, ya saya tertarik untuk mendaftar STAN waktu itu. Tapi banyak pihak yang menolak keputusan saya tersebut terutama guru BK saya waktu SMA, ya walaupun sudah lulus saya mencoba tetap menjalin silaturahmi dengan guru-guru di SMA terutama guru BK yang memang sudah sangat akrab dengan saya. Saya berkata, “Bu saya mau pindah kampus, saya gak betah disini, saya mau ke Jakarta lagi. Saya mau daftar STAN aja”. Seingat saya dulu pendaftaran STAN pas banget saya sudah masuk di semester 1. Akhirnya guru BK saya bilang, “Nak rejekimu udah diatur disana, tega mau ninggalin kampus besar? Emang yakin STAN bisa bikin kamu betah? Rasa nyaman ditempat baru itu kamu juga yang bentuk. Ibu yakin kamu bisa menjadi lebih baik di UGM.”

Tugas baru saya dimulai disini berusaha membuat diri ini nyaman terlebih dulu di tanah rantau. Berbagai cara saya coba lakukan, berusaha menjadi dhea yang pecicilan seperti di SMA, menjadi dhea yang kepo akan segala hal, menjadi dhea yang ceriwis banget. Bisa? Eits gak seintsan itu, cibiran mulai datang dari kawan baru.

Cibiran, nyinyiran, dan kata-kata julid seperti “Halah anak Jakarta tuh gak sopan”, “Pasti anak Jakarta tuh manja, mau enaknya aja”, “Apasih kok anak Jakarta sombong bgt?”, “Duh mukanya jutek bgt”, “Tolong ya dibiasain di Jogja ngomong aku-kamu jangan gua-lu, gak sopan bgt, adaptasi dong”, dan omongan pedas lainnya.

Jogja yang berhati hangat, waktu itu sangatlah dingin bagi saya. Lagi-lagi saya bertanya ke diri saya, “Sanggupkah kamu?”.

Sanggupkah kamu menjadi besar, dikampus besar?

To be continued…


Moral Value : Never underestimate the power of fate

Komentar