COLLEGE JOURNEY : AWAL SEBUAH PEMBUKTIAN DIRI


Supaya lengkap bacaanmu, jangan lupa baca part yang sebelumnya juga
http://dnuralifiani.blogspot.com/2018/08/college-journey-doa-yang-terbayar.html

Hari yang cerah di Jogja dengan segala hiruk pikuknya yang tidak pernah terlelap mengantarkan saya kepada kawan baru satu prodi saya untuk bertemu pertama kalinya. Ada perasaan takut, cemas, dan bahagia di benak saya. Terlepas dari segala cibiran dan nyinyiran yang saya terima di grup LINE, saya berusaha berpikir positif bahwa itu adalah salah satu cara Tuhan menguji mental saya agar lebih tangguh lagi kedepannya.

Kesan pertama ketika bertemu kawan baru berjalan dengan cukup baik. Ya, hanya cukup, bagaimana tidak perkenalan pertama saya sudah diwarnai dengan tatapan sinis dan kalimat sindiran. Ada kalimat yang selalu saya ingat, “Cepet adaptasi deh, bahasanya diperhalus, tapi kalo ngomong aku-kamu sama cowok jangan baper ya”. Saya di Jogja tinggal bersama keluarga Ibu saya, di daerah Jalan Kaliurang dan ketika saya cerita tentang “Jika saya tidak nge-kost”, menurut kalian tanggapan apa yang saya dapati? Ya, lumayan pedas, tapi tetap saya santap dengan lahap, kurang lebih seperti ini kalimatnya, “Wah padahal ngerantau tuh buat ngelatih biar lebih mandiri, kalo tinggal sama nenek bukannya tetep jadi anak Jakarta yang manja?” dan “Enak ya ada keluarga di Jogja, nggak perlu repot mikir hari ini mau makan apa, cucian baju, dan lainnya”. Sepicik itukah pemikiran kalian tentang anak Jakarta?

Saya mungkin acuh tak acuh dengan semua omongan tersebut, masih berani tersenyum dan tertawa di depan mereka. Tapi apa yang sebenarnya saya rasakan adalah ingin pulang, pulang, dan pulang. Tapi saya Dhea Nuralifiani Safitri, nama yang memiliki arti cahaya pertama yang penuh dengan kasih sayang, tentu saya tidak akan menyerah begitu saja kalau perlu saya buktikan ke mereka, saya bukanlah Dhea seperti yang kalian pikir. Saya tidak akan mengatakan jika saya lebih baik dari mereka tapi saya harus bisa menghilangkan pola pikir negatif mereka terhadap saya.
Penutupan PPSMB berakhir dengan meriah, seperti biasa UGM selalu punya cara agar menarik hati dan membuat takjub bagi siapapun yang meilhatnya, bahkan mahasiswa baru seperti saya takjub dengan kerja keras panitia PPSMB bisa memberikan upacara penutupan PPSMB yang sangat berkesan dan pastinya berakhirnya PPSMB adalah langkah awal saya menjadi mahasiswa UGM yang sesungguhnya.

Pagi itu hari Senin saya memulai aktifitas akademik saya, kuliah. Kelas jam 7 dengan mata kuliah pertama saya Akuntansi Pengantar 1. Sepanjang perjalanan menuju kampus terlontar doa, memohon agar diberikan kesan pertama yang indah. Lagi-lagi Tuhan mengabulkannya, saya diperkenalkan dengan teman baru yang jauh lebih menghargai apa itu kesan pertama yang baik. Saya jauh lebih senang karena saya tidak sekelas dengan orang yang melontarkan kalimat pedas pada pertemuan pertama saat itu, lega rasanya. Bukannya saya ingin menghindar dari orang yang membuat hati saya sakit, hanya saja saya tidak mau aura positif yang saya bawa di hari pertama kuliah tercemar gara-gara satu orang itu. Jujur, saya adalah tipe pendendam, tapi dengan arti positif. Lho kok bisa?

Saya akan membalas sakit hati yang saya rasakan dengan pembuktian. Pembuktian bahwa apa yang mereka bilang tentang saya yang manja, sombong, jutek, tidak bisa beradaptasi dengan baik, semua itu salah. Pembuktian dengan cara yang positif, yang mungkin nantinya mereka takjub dengan saya.

Minggu-minggu awal perkuliahan bisa dibilang saya ambisius, bagaimana tidak? Tugas yang dikasih dosen untuk dikumpulkan minggu depan sudah saya kerjakan setelah pulang kuliah, setiap malam mengulang materi kuliah yang sudah dipelajari dan jika masih sempat belajar materi kuliah untuk esok harinya. Ya memang saya punya impian untuk mendapatkan IPK cumlaude, wajar, selain untuk pembuktian diri bahwa saya bisa, saya juga ingin membuat orang tua saya tersenyum. Jika kalian berpikir standar untuk membuat orang tua saya tersenyum hanya dengan IPK, saya harus mengatakan iya, tapi itu baru salah satu dari sekian cara yang saya siapkan untuk membuat orang tua saya tersenyum. Orang tua saya membiayai saya kuliah untuk melihat anaknya berkembang dengan disiplin ilmu yang dipilihnya. Saya tidak mengatakan IPK adalah kunci dari kesuksesan, tidak, karena arti sukses menurut setiap orang pasti berbeda.  

IPK juga bukan standar kebahagiaan seseorang, bukan, IPK hanya sebuah angka indeks yang kamu peroleh tapi juga itu sebagai pembuktian ke dirimu, ke orang tuamu, dan orang lain bahwa kamu bisa, bahwa kamu sungguh-sungguh, bahwa kamu tidak akan menyia-nyiakan uang orang tua hanya untuk sekedar hura-hura di kampus besar seperti UGM. Bukannya dengan masuknya kamu di UGM tanggung jawabmu jadi besar juga?

Saya selalu bilang ke diri saya, “Kamu mahasiswa UGM, kamu bawa nama UGM kemanapun kamu pergi, jika kamu berhasil menjaga nama baikmu, berarti kamu juga berhasil menjaga nama baik almamater mu”. Karena saya yakin, UGM mempunyai nama yang besar bukan karena kampus itu saja yang mempunyai impian untuk menjadi besar, tapi juga ada campur tangan mahasiswa yang hebat di dalam universitas tersebut. Hebat dengan caranya masing-masing, hebat dengan sebuah pencapaian besar yang sedang mereka idamkan dan sedang mereka perjuangkan.

Perbincangan dengan kakak tingkat di koridor kampus siang itu membuat hati saya goyah, saya yang awalnya hanya ingin mendedikasikan kehidupan perkuliahan saya untuk akademik semata, saat itu runtuh seketika, ketika kakak tingkat bilang, “Kamu jauh-jauh ke Jogja cuma buat kuliah dapet IPK bagus terus udah? Kamu mahasiswa kerakyatan, gamau mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lain, pengabdian misalnya?”. Dan ada satu lagi kalimat yang saya ingat, “Jika kamu ingin membuktikan diri, menurutku akademik tidaklah cukup, otak pintar dan IPK tinggi nggak akan bisa ngambil hati mereka, yang ada bisa saja kamu cuma dimanfaatkan. Mau perjalananmu di UGM sia-sia?”.

Pada saat itu memang sedang ada kepanitiaan di prodi saya yang membuka pendaftaran. Ya mungkin kalimat kakak tingkat diatas sebagai isyarat jika saya harus daftar sebagai panitia, ya ajang promosi terselubung mungkin. Tapi setelah saya pikir kembali, ada benarnya omongan kakak itu.
Saya siap mengambil langkah baru dalam perjalanan saya di UGM, tetapi seperti gula yang sudah ada dalam mulut tidak jadi saya telan. Mengapa?

Ada apa dengan dirimu, Dhea?

Sanggupkah atau ingin mundur dengan misi pembuktian dirimu itu?


To be continued…..



Moral Value : My dad used to tell me if opinions are like assholes, everybody has one. But remember darling, we are all imperfect.  

Komentar