Wasn't Expecting #Part2
Sekarang
aku harus bagaimana? Logikaku sudah tidak berfungsi lagi, jantungku berdetak tak tahu arah, dan jiwaku
seakan melayang bersama setiap hembusan nafasku. Aku berpikir, bagaimana
seharusnya sikapmu terhadapmu? Sosok laki-laki yang dulu pernah membuat luka di
hati ini, apakah hatiku ini masih bisa berkompromi denganmu? Akan kah kau ingin
memulai lembaran baru memperbaiki masa lalu kita? Akan kah kau mau berjuang
lagi untukku? Atau….? Sudahlah otakku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi,
terlalu banyak tanda Tanya di otakku.
Aku
bingung Rey harus mengatakannya padamu bagaimana, maksudku, bagaimana nanti
jika kita benar-benar bertemu? Apa kau masih mengenalku? Wajahku? Suaraku? Apa
kau masih mengingat semua itu? Begitupun aku, Bagaimana kau yang sekarang? Apa
aku masih mengenal Rey-ku yang dulu? Ah sudahlah itu urusan nanti, sekarang
yang harus kulakukan hanyalah membalas email itu.
“Hai,
Rey. aku baik, bagaimana keadaanmu? Aku tidak tau harus berkata apa lagi
padamu, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, sungguh, aku juga minta maaf Rey
dan terima kasih masih bersedia menyisihkan sedikit memori otakmu itu untuk mengingatku.
Seharusnya memori otakmu itu digunakan untuk hal yang berguna bukan untuk aku,
buang-buang waktu tau gak?. Ya, aku masih Dasha yang dulu, tidak berubah sama sekali,
si periang julukanmu kepadaku. Bulan
lalu aku bertemu adikmu, dia sekarang sudah besar, tumbuh menjadi gadis remaja
yang cantik, dia juga masih mengingatku dengan baik sama seperti kamu. Lalu,
bagaimana dengan wanita itu? Aku ingin kau menceritakan semuanya, temui aku di
Jogja minggu depan, kau detective
yang cerdik aku tahu itu.”
Rey,
ya, dia adalah si otak jenius yang juga memilki keterampilan menjadi seorang detective. Dia bisa menemukan dimanapun
kamu berada, jika dia mau. Kau sama sekali tidak bisa berbohong kepadanya
karena pasti akan diselidiki oleh dia, entah bagaimana caranya kebohonganmu
akan terungkap menjadi sebuah analisis fakta yang sudah dia selidiki. Begitu
lah dia, pria yang kucintai dulu, si
detective, tapi itu dulu entah bagaimana sekarang, apakah semua ini masih
berlanjut?
Seperti
yang ku bilang dia memang detective yang cerdik, malam itu, disaat langit Jogja
sedang bersedih dia menelponku, tidak kusangka, entah dia masih menyimpan
nomorku karena memang aku tidak pernah ganti nomor handphone atau ya seperti
yang kalian tahu, dia melakukan sebuah penyelidikan, memang dia bukanlah orang
yang gampang ditebak. Malam itu kami berbincang panjang lebar, tapi kami sama
sekali tidak membahas pertemuan kami, bagaimana dan seperti apa jika nanti kami
bertemu. Satu kalimat yang paling kuingat saat sebelum perbincangan itu
berakhir adalah “aku akan menemui entah bagaimanapun caranya, kita harus
bertemu, kita selesaikan semuanya saat kita bertemu nanti.”, tiba-tiba telfon
terputus. Apa maksud dari “kita selesaikan semuanya”? apa yang “belum selesai”
dari kita? Apakah hari itu di bangku taman itu belum cukup jelas untuk
menyatakan semuanya telah berakhir? Apa kau sedang memberikanku sebuah harapan
baru? Yang bisa kuharap sekarang hanyalah kau tidak menerbangkanku lalu
menjatuhkanku sedalam-dalamnya untuk kedua kali, Rey.
Jogja,
18 April 2016
Hari
ini adalah hari yang entah harus kusebut hari bahagia atau bahkan hari yang
tidak pernah kuinginkan, entah, aku sama sekali tidak punya akal untuk hal yang
satu ini. Di café dekat Malioboro kami bertemu, ternyata memang dia detective
yang hebat, dia memenuhi ucapannya akan menemukanku yang entah aku tidak
mengerti bagaimana caranya.
Tiba-tiba handphone-ku
berdering dan ada telfon masuk, “Hai, gadis 3A” katanya.
Bersambung.....
Komentar
Posting Komentar