Wasn't Expecting #Part1

Hahhh sudah lama rasanya sejak kita sepakat tidak berhubungan lagi, memutuskan segala tali yang telah terikat bahkan terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh beratasnamakan cinta dan kasih sayang. Setelah itu kau menghilang bagai ditelan bumi, tiada kabar bagai burung yang lepas dari sangkarnya, yang entah kapan akan kembali dan bahkan tidak bisa diharapkan untuk kembali. Tapi hari Senin minggu lalu burung yang lepas dari sangkarnya itu datang kembali membawa lembaran baru yang polos dan membawa sejuta cerita untuk dibagi. Kau bahkan menjadi tambah bawel sekarang, pesan yang kau kirim sangatlah panjang, seperti artikel-artikel yang ada di surat kabar. Kau bercerita banyak hal, tentang karirmu, keluargamu, pendidikanmu, dan juga tidak luput dari kisah percintaanmu.

Di pesan yang kau kirim melaui e-mail tersebut kau menceritakan semuanya, semuanya dari semenjak kita berpisah, dan alasan mengapa kau menghilang begitu saja pada saat itu.
“Hallo Dasha, apa kabar? Bagaimana keadaan Indonesia sekarang? Kuharap semuanya baik-baik saja. Apa kau masih mengingatku? Kurasa tidak. Apa aku harus memulai semuanya dari awal lagi? Aku mau minta maaf, sejak hari itu aku tidak ada kabar sama sekali, setelah pertengkaran dan obrolan di taman waktu itu, saat kita memutuskan untuk berpisah, tidak, aku yang memutuskan. Pada saat itu aku masih kacau, aku bimbang, aku merasa aku sangat egois saat itu, maaf aku belum bisa jadi pria baik seperti yang kau inginkan. Tapi satu hal yang sebenarnya belum kau ketahui adalah waktu itu ketika kita masih menjalin hubungan tersebut jujur saja aku dijodohkan oleh seorang wanita. Wanita itu adalah anak dari rekan kerja ayahku. Aku tidak bisa menolak, aku bingung….”

Kau tau Rey? Membaca email darimu walau belum sampai kata terakhir pun kau sudah berhasil membuat dada ini berdegup tidak beraturan, kau mengembalikan ingatan dan luka yang sebenarnya sudah kulupakan dan kubuang jauh-jauh.

“…. Aku bingung harus mengatakannya padamu seperti apa. Aku mengerti hubungan kita waktu itu tidak sebentar, sudah menginjak usia 1 tahun 5 bulan 20 hari, itu bukan lah hal yang mudah, terlebih lagi kita berbeda agama. Tapi apakah kau sadar setelah sekarang kau dewasa? Kita bodoh waktu itu, ya aku dan kamu, bodoh, tau kenapa? Agama memisahkan kita tapi tetap kita paksakan, kita paksakan walaupun tau akhirnya akan berujung pada kata pisah. Kita terlalu egois pada waktu itu, kuakui itu, kita lupa dengan Tuhan kita, seakan-akan dunia adalah milik kita berdua saja, tapi kita salah. Kau tau apa yang terjadi padaku sekarang? Aku sudah bertunangan dengan wanita itu setahun yang lalu. Karir ku disini berjalan lancar, aku mendapat jabatan sesuai dengan apa yang aku harapkan dan aku cita-citakan dari dulu. Malaysia adalah Negara terindah yang pernah kutempati selain Indonesia. Jaraknya mungkin tidak sejauh eropa ke Indonesia, tapi untuk berhubungan jarak jauh menurutku tetap saja sulit, itulah alasan keduaku untuk berpisah denganmu. Aku menggapai mimpiku sendiri, aku seakan dibutakan oleh semuanya, padahal ada seseorang yang sayang dan selalu membantuku, memberi semangat, tenaga dan waktunya untuk menggapai mimpiku hingga aku bisa mencapai di titik ini. Maaf aku egois, aku tidak memikirkanmu, bahkan disaat kamu terpuruk pun aku sibuk dengan duniaku, tidak bisa membagi waktu untukmu, ya aku adalah orang yang ambisius dan kau sangat tau itu, dan tetap saja kau bertahan dengan orang yang keras sepertiku. Kamu wanita terbaik yang pernah kutemui dan kumiliki….”

Dadaku sesak, kenangan itu seakan-akan mulai merasuki otakku lagi, mengingatkan semua yang pernah kulalui bersamamu, entah itu indah atau bahkan bagian terburuk dari kisah kita. 3 tahun yang lalu, ya tepat 3 tahun yang lalu kau memutuskanku, di bangku taman dekat rumahmu.


 “…. Kau tau apa yang paling kurindukan dari dirimu? Semua hal dari dirimu, itu yang kurindukan. Omong-omong kau masih tidak suka kecap? Masihkah kau alergi dengan kacang kedelai? Bagaimana dengan kacang merah? Atau apakah kau masih alergi dingin? Oh aku teringat waktu itu aku mengajakmu liburan ke daerah Bandung, ya waktu itu udara masih sangat dingin di daerah sana dan malam itu alergimu kambuh, tubuhmu dipenuhi dengan bentol merah dan bodohnya aku bukannya mencarikanmu obat pereda alergi atau setidaknya menghangatkan tubuhmu aku malah panik, aku kira kamu terkena cacar atau semacamnya. Aku kangen kamu, Dasha dan aku rindu “kita”. Minggu depan aku ke Indonesia aku harap kita bisa bertemu walaupun satu jam saja. Tolong jangan tolak pertemuan kita kali ini, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu terutama masalahku dengan wanita itu dan perasaanku yang belum selesai terhadapmu. Aku tunggu balasan darimu secepatnya.” 

Komentar