Wasn't Expecting #Part3

"Hai, gadis 3A......."

Sontak aku langsung terkejut tapi tak berdaya, dia yang sudah lama tak jumpa masih dengan sangat jelas mengingatku. Omong-omong 3A itu adalah nomor kursi yang aku duduki di cafe tersebut. Lalu, dia mendekat dan semakin mendekat dan akhirnya dia berdiri persis di depanku. Rey, kamu tidak berubah sama sekali, kau masih Rey yang kukenal, senyummu masih sama seperti Rey yang dulu.

“Hai, Dasha” kata Rey. Aku pun hanya bisa termangu, lantas aku hanya bisa membalas sekenanya. Dia terus memandangku, bukan risih yang kurasa, aku justru nyaman oleh tatapan itu, tatapan yang membuatku rindu akan sosokmu Rey. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut kami berdua, hanya senyum dan tatapan hangat bagai sepasang kekasih yang sedang melepas rindu. “Rey, jangan pergi lagi, kumohon, andai kita bisa seperti dulu, manis tapi pahit”, gumamku dalam hati.

“Apa kabar?” katanya, “baik” jawabku. “Maaf” katanya lagi, “Aku sudah lama memaafkanmu, Rey. Lihat aku sekarang aku baik-baik saja kan? Bagaimana tunanganmu itu?”. Oh Rey, andai kau tahu berat untukku menanyakan bagaimana tunanganmu itu, aku ingin hari ini menjadi hari kita, tidak ada bahasan orang ketiga atau orang keempat bahkan yang lainnya. Aku rindu berbincang hangat namun ringan bersamamu, seperti dulu, kau mantan terindahku, terima kasih pernah hadir walau sesaat. Senyum hangat yang terlukis indah dari bibirmu membuat ku semakin yakin bahwa aku rindu.

Cerahnya sinar matahari menemani obrolan kami. “Masih sama seperti dulu, si periang dengan senyum lebar tapi hangat” ucapnya sembari meneguk cappucino yang dipesannya. Tebak apa yang kuucapkan setelah itu? Tepat sekali, tidak ada kata yang dapat terlontar dari mulutku. Mulutku seakan digembok, tertutup rapat, tak dapat menemukan kunci gembok tersebut untuk sekedar basa-basi atas kalimatnya. Sungguh ini diluar nalar, diluar kuasaku. Hanya dengan kalimat seperti itu saja aku seakan dibawa terbang bersama asa yang baru untuk kenangan lama ini.

Aku bukan orang yang pandai untuk urusan ini. “Jadi gimana Malaysia?” ucapku sekenanya, bodoh, aku malu. “Tak sama karena kau tidak disana” ucapnya lagi. “Haha gimana dengan tunanganmu?” ucapku berusaha mengalihkan. Lalu dia pun hanya menjawab dengan singkat, “baik”. Semakin larut dan larut dalam obrolan aku semakin yakin ternyata aku masih sayang, ya sayang dia yang sudah bertunangan dengan wanita lain. Aku tidak akan berharap menjadi rumahmu lagi kali ini atau bahkan aku juga tidak akan menerimamu sebagai tamuku lagi. Aku takut, tamu yang awalnya singgah sejenak termakan oleh rasa nyaman lalu singgah untuk selamanya dan membawa kenangan buruk . Ya, rumah itu adalah hatiku. Kau hanya datang dan menunggu pondasinya rapuh, setelah rapuh lalu kau gadaikan dan tinggalkan, tidak, aku tidak mau, cukup sekali saja. Aku tidak akan jatuh di lubang yang sama.

“Rey, apa yang ingin kau bicarakan?” kataku dan dia menjawab “Aku rindu hanya itu, rinduku yang belum kelar padamu dan mungkin tak akan pernah kelar. Memang aku sudah bersamanya, tunanganku, tapi apa rindu itu salah?” ucapnya lagi.

"tapi apa rindu itu salah?" Oh, Rey....

Bersambung......


Komentar