Sebuah Sajak Patah Hati

Kamu adalah salah satu alasan mengapa aku masih bertahan sampai hari ini
Kamu juga yang mengajarkan ku arti berjuang yang sesungguhnya
Tapi itu dulu…
Sekarang rasa yang ku punya untukmu harus kupendam sedalam-dalamnya
Sempat terpikir di benakku untuk terus berjuang
Demi kamu, demi hati ini, dan demi kita, mungkin
Tapi ternyata semuanya berujung dengan sia-sia jua
Lelah, itu lah yang kurasa
Seakan berjuang untuk menggenggam angin topan
Bergerak cepat sampai akhirnya aku terbawa arus
Dan pada akhirnya aku yang sakit, aku yang jatuh menderita
Bimbang hati ini melihat sikapmu kepadaku
Seakan mau tapi tidak mau
Aku berani taruhan sekarang
Aku yang selama ini berjuang untukmu bahkan tidak pernah kau tengok sedikitpun
Tidak pernah kau ingat aku dibenakmu
Tidak pernah ada celah untukku dihatimu
Dan aku kau anggap sebagai sambilan disaat kau bosan dengan yang lain
Sudah, cukup aku akhiri saja, sudah cukup muak aku denganmu
Lebih baik aku menata hati ini untuk menerima kehadiran orang lain, penggantimu, di hati ini

Jakarta, 31 Desember 2016 00:00 WIB
Dhea Nuralifiani Safitri

Komentar