Aku, Kalian, dan Keadaan

Hai, sudah lama tak saling sapa, kalian apa kabar? Baik saja bukan?
Ingat pertama kali kita bertemu? Pertama kali kita saling sapa dan berkenalan
Memang kita tidak langsung akrab, walaupun perlu adaptasi juga pada awalnya
Tapi setelah aku mengenal kalian, semua pikiran negatifku tentang tanah rantau ini, tentang kejamnya masa perkuliahan ini seketika hilang
Kalian mampu menghadirkan tawa dan senyum dari bibirku
Kalian mampu membuatku nyaman dalam sekejap
Persahabatan kita bertujuh terjalin harmonis
Kita sering bertukar cerita, bertukar pengalaman, dan kisah kita masing-masing
Kita berbagi tanpa ada yang saling ditutupi, ya kita, kita bertujuh
Aku sangat menikmati itu, sampai pada akhirnya keadaan mengubah semua
Pada akhirnya semua mempunyai dunia masing-masing dan kalian menikmati dunia itu
Dan pada akhirnya kita sudah jarang saling menyapa, bercanda, berbagi tawa bahkan tangis pun sudah jarang ku dengar
Apakah kalian bahagia sekarang? Syukur kalau begitu, aku turut bahagia
Apakah kalian tidak ada keluh kesah yang ingin dibagi? Aku rindu berbagi itu, mendengar keluh kesah kalian
Aku rindu saat-saat itu, saat dimana kita saling bertatap muka, saling memahami dan bahkan mengasihi
Kemana kita yang dulu? Apakah persahabatan kita sudah berakhir sampai disini?
Aku rindu kalian, kawan, sungguh!
Aku bosan, aku jenuh, marah, kecewa, semua bercampur jadi satu
Kawan, apakah kalian merasakan semua perubahan ini? Atau hanya aku saja yang merasa?
Kawan, bisakah kita kembali seperti dulu? Utuh bertujuh, tidak retak seperti ini
Kawan, apakah kita bisa mengembalikan runtuhan batu yang sudah terkikis oleh air ini?


Salam rindu,
Yogyakarta, 17 Juli 2016
DnS.

Komentar